Guru Yang efektif

GURU YANG EFEKTIF

Selama bertahun-tahun telah dilakukan penelitian mengenai definisi dari Guru yang Baik. Hal ini sangatlah penting mengingat bahwa guru merupakan salah satu komponen penting dalam proses belajar mengajar di sekolah. Peran guru tidak hanya terbatas dalam transfer of knowledge kepada para siswa. Dalam perkembangan sekarang ini di mana proses pembelajaran tidak lagi hanya satu arah dari guru kepada siswa, guru memiliki peran yang jauh lebih kompleks.

Slavin (2009) menggambarkan sebuah bagan dari komponen-komponen yang membentuk seorang guru yang baik.

Knowledge of subject                                                      Critical thinking and

teaching resources                                                  and problem solving skills

Knowledge of students                                                             Teaching and

and their learning                                                           communication skills

Komponen dari Guru yang Baik

Bagan di atas menggambarkan empat komponen utama dari seorang Guru yang Baik yaitu pengetahuan tentang mata pelajaran yang diajarkan, kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah, pengetahuan akan peserta didik dan cara pembelajarannya, serta keterampilan mengajar dan komunikasi. Keempat komponen di atas digabungkan oleh empat komponen lainnya yaitu kemampuan memecahkan masalah, kemampuan untuk memahami dan mengaturan diri sendiri, kemampuan untuk melakukan refleksi, serta kemampuan untuk menerapkan hasil-hasil penelitian tentang pendidikan.

Jika kita perhatikan dari seluruh komponen di atas terlihat bahwa figur seorang Guru yang baik tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pengetahuan yang dimiliki tentang materi yang diajarkan di kelas. Dibutuhkan atribut-atribut tertentu yang akan mendukung tercapainya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

Mengajar: Sebuah Seni atau Ilmu Pasti?

Henson & Eller (1999) mengatakan bahwa pertanyaan yang sering kali muncul adalah “Apakah mengajar termasuk sebuah seni atau ilmu pasti?”. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa mengajar merupakan sebuah “seni”. Hal ini disebabkan karena mengajar akan menampilkan kepribadian, spontanitas, dan emosi dari seorang guru. Mengajar, secara jelas, berhubungan dengan “ketrampilan seni” (artistry) dari seseorang dalam mengajar dan mencipta – guru berperan membentuk apakah siswa akan menjadi seniman, pemahat, guru, atau memiliki ketrampilan lainnya.

Keterampilan mengajar melibatkan kemampuan seorang guru dalam menggunakan metode untuk memerintah, bertanya, membimbing, mengevaluasi, atau menghasilkan sebuah karya. Keterampilan seni, secara umum, melibatkan kreatifitas, kepribadian, dan antusiasme yang menyertai kegiatan mengajar. Ini berarti “ketertarikan” dan “inovasi” guru dan siswa sangatlah penting dalam proses belajar.

Ketertarikan dan Inovasi

Henson & Eller (1999) mengungkapkan bahwa seorang guru yang efektif akan selalu mencari cara yang lebih baik dalam mengajar. Sebagai contoh, pada saat menghadapi keributan di dalam kelas yang sudah mengganggu, beberapa guru seringkali berteriak untuk menenangkan siswa. Hal ini lebih sering tidak berhasil dilakukan. Seorang guru yang efektif akan berusaha mencari pendekatan yang berbeda. Sebagai contoh, daripada menaikkan nada suaranya, guru ini akan berhenti bicara, kemudian melakukan kontak mata untuk menenangkan kelas. Guru yang lain akan melakukan proximity control yang secara mudah dapat digambarkan dengan berjalan mendekati bagian kelas yang paling berisik dan berada di sana sampai keributan itu mereda.

Metode ini mungkin tidak berhasil untuk semua jenjang pendidikan, mungkin saja ada metode lain yang lebih efektif untuk dilakukan. Hal ini yang menyebabkan  ketertarikan, percobaan, dan pengambilan resiko perlu untuk dilakukan oleh seorang guru. Menurut King & Kitchener serta Sleffy & Wolfe (Henson & Eller, 1999), sepanjang karirnya seorang guru akan yang baik akan terus meningkatkan kemampuan untuk merenungkan kepribadian dan menggunakan hasil perenungan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuannya mengajar. Friday (Henson & Eller, 1999) mengungkapkan bahwa contoh, bimbingan, dan motivasi yang diberikan seorang guru akan dapat mempengaruhi siswanya.

Karakteristik dari Guru yang Baik

Secara singkat guru yang baik adalah seorang individu yang peduli dengan siswa dan mendedikasikan waktu dan energinya untuk menjadi manajer yang handal di kelas, materi pelajaran, dan pelajaran di kelas.

Menurut Slavin (2009) yang menjadikan seorang guru disebut sebagai Guru yang Baik tidak hanya sekedar mengetahui tentang materi pelajaran tetapi juga harus mengetahui tentang ketrampilang mengajar. Guru yang Baik tidak hanya tahu materi yang seharusnya diajarkan tetapi juga dapat mengkomunikasikan pengetahuan mereka kepada para siswa. Yang terpenting adalah kemampuan menghubungkan konsep-konsep abstrak dengan pengalaman yang sudah dimiliki oleh para siswa.

Wolfgramm (Henson & Eller, 1999) mengatakan bahwa guru akan terus menghadapi tantangan dalam memotivasi siswa, mempertahankan disiplin, serta bekerja sama dengan orangtua, sesama guru, dan administrator. Hal-hal di atas sangatlah penting untuk dilakukan oleh guru dengan melibatkan atribut dan harapan yang unik terhadap para siswanya.

Selain itu, menurut Salvin (2009) terdapat juga kemampuan-kemampuan guru yang perlu diterapkan di seluruh level pendidikan, baik di dalam maupun di luar kelas, seperti memotivasi siswa, mengatur kelas, mengukur pengalaman terdahulu siswa, mengkomunikasikan ide-ide dengan efektif, memahami karakter-karakter peserta didik, mengukur hasil pembelajaran, dan meninjau kembali  informasi yang diperoleh.

Burden & Byrd serta Kennedy (Slavin, 2009) menambahi bahwa Guru yang Baik perlu memiliki kemampuan untuk menampilkan tugas-tugas yang mempengaruhi instruksi yang efektif. Merujuk pada hasil penelitian Cornelius-White serta Eisner (Slavin, 2009) kehangatan, antusiasme, dan perhatian sangatlah penting. Sementara penelitian Wiggins & McTighe (Slavin, 2009) menunjukkan bahwa Guru yang baik perlu memiliki pengetahuan tentang materi pelajaran dan cara belajar siswa. Meski demikian, menurut Shulman (Slavin, 2009) keberhasilan dari ketuntasan materi yang diajarkanlah yang menjadikan suatu pembelajaran menjadi efektif instruksional.

Di dalam proses mengajar, seorang guru perlu melakukan perencanaan dan persiapan, serta pengambilan keputusan setiap jamnya. Dengan demikian sebuah atribut yang melekat pada guru yang menonjol adalah: intentionality, yaitu melakukan sesuatu dengan alasan, atau bertujuan. Intentional teacher adalah guru yang secara terus menerus memikirkan hasil yang mereka inginkan dari siswanya dan bagaimana setiap keputusan yang mereka buat akan mengarahkan siswa menuju hasil yang diharapkan. Seringkali siswa belajar dalam keadaan yang tidak direncanakan. Namun untuk menantang para siswa, untuk memicu usaha terbaik yang  dimiliki, untuk membantu siswa melakukan loncatan yang konseptual, serta untuk mengorganisasi serta mempertahankan pengetahuan baru, guru perlu untuk memiliki alasan (purposeful), penuh pemikiran (thoughtful), dan fleksibel, tanpa kehilangan arah dalam membimbing setiap siswanya.

Duane Obermier (Henson & Eller, 1999), seorang guru teladan dari Nebraska, berbagi pengalamannya mengenai pendapatnya tentang seorang guru yang “baik” adalah guru yang melakukan persiapan yang matang, selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuan mengajar, menetapkan standar yang tinggi, fleksibel, jujur, fokus terhadap siswa dan kebutuhannya, bersikap sopan terhadap siswa, menerapkan peraturan secara umum, namun tetap membiarkan konsekuensi natural terjadi.

Telah banyak penemuan yang mengungkapkan bahwa salah satu prediktor yang kuat dari pengaruh guru terhadap siswa adalah keyakinan bahwa si guru melakukan perubahan. Menurut Henson serta Tschannen-Moran & Woolfolk Hoy (Slavin, 2009) keyakinan ini disebut sebagai teacher efficacy merupakan inti dari guru yang intentional atau bertujuan.

Shirley Rau  (Henson & Eller, 1999) mengungkapkan bahwa keberhasilan sebagai seorang guru, konselor, atau pakar pendidikan lainnya tergantung dari kemampuan untuk memahami keadaan dan menerapkan inovasi serta ketrampilan untuk membuat kebutusan yang memecahkan atau mengurangi efek dari masalah yang ada.

Charles Sposato (Henson & Eller, 1999) seorang guru teladan dari Massachusetts, mengatakan bahwa dalam perjalanan kariernya sebagai seorang guru seringkali menanyakan kepada siswa mengenai kualitas seperti apakah yang diharapkan siswa dari guru mereka. Jawaban yang paling sering diberikan selalu hampir sama, yaitu penguasaan materi, keadilan, dan rasa gembira. Saat diminta untuk memberikan satu jawaban saja, respon yang diberikan umumnya adalah rasa humor (sense of humor).

Cukup sulit untuk menentukan atribut apa yang dimiliki oleh guru untuk dekat dengan para siswanya. Meski demikian fokus perhatian saat ini lebih kepada organisasi kelas, manajemen waktu, dan interaksi antara guru dengan murid. Aspek-aspek tersebut lebih mudah untuk dikuantifikasi dan diukur daripada aspek-aspek yang sifatnya sangat individual seperti kehangatan dan kepedulian.

Peran guru dalam pembelajaran

Djamarah (2000) merumuskan peran guru dalam pembelajaran sebagai berikut:

  1. Korektor: Sebagai korektor guru berperan menilai dan mengoreksi semua hasil belajar, sikap, tingkah laku, dan perbuatan siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah sehingga pada akhirnya siswa dapat mengetahui.
  2. Inspirator: Sebagai inspirator guru harus dapat memberikan inspirasi atau ilham kepada siswa mengenai cara belajar yang baik. 
  3. Informator: Sebagai informator guru harus dapat memberikan informasi yang baik dan efektif mengenai materi pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum serta informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 
  4. Organisator: Sebagai organisator guru berperan untuk mengelola berbagai kegiatan akademik baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler sehingga tercapai efektivitas dan efisiensi belajar anak didik. Di antara berbagai kegiatan pengelolaan pemebelajaran yang terpenting adalah menciptakan kondisi dan situasi sebaik-baiknya sehingga memungkinkan para siswa belajar secara berdaya guna dan berhasil guna. 
  5. Motivator: Sebagai motivator guru dituntut untuk dapat mendorong anak didiknya agar senantiasa memiliki motivasi tinggi dan aktif belajar. 
  6. Inisiator: Sebagai inisiator guru hendaknya dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. Proses pembelajaran hendaknya selalu diperbaiki sehingga dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  7. Fasilitator: Sebagai fasilitator guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan anak didik dapat belajar secara optimal. Fasilitas yang disediakan hendaknya tidak hanya fasilitas fisik seperti ruang kelas yang memadai atau media belajar yang lengkap, akan tetapi juga fasilitas psikis seperti kenyamanan batin dalam belajar, interaksi guru dengan anak didik yang harmonis, maupun adanya dukungan penuh guru sehingga anak didik senantiasa memiliki motivasi tinggi dalam belajar.
  8. Pembimbing: Sebagai pembimbing guru hendaknya dapat memberikan bimbingan kepada anak didiknya dalam menghadapi tantangan maupun kesulitan belajar. Akhirnya diharapkan melalui bimbingan ini anak didik dapat mencapai kemandirian dalam mencapai tujuan pembelajaran secara optimal.
  9. Demonstrator: Sebagai demonstrator guru dituntut untuk dapat memperagakan apa yang diajarkan secara didaktis sehingga anak didik dapat memahami materi yang dijelaskan guru secara optimal.
  10. Pengelola kelas: Sebagai pengelola kelas guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik karena kelas adalah tempat berhimpun guru dan siswanya dalam proses pembelajaran. Dengan pengelolaan kelas yang baik diharapkan siswa dapat memiliki motivasi tinggi dalam belajar dan pada akhirnya dapat mencapai hasil belajar optimal.
  11. Mediator: Sebagai mediator hendaknya guru dapat berperan sebagai penyedia media dan penengah dalam proses pembelajaran anak didik. Melalui guru, siswa dapat memperoleh materi pembelajaran dan umpan balik dari hasil belajarnya.
  12. Supervisor: Sebagai supervisor guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki, dan menilai secara kritis proses pembelajaran yang dilakukan sehingga pada akhirnya proses pembelajaran dapat optimal.
  13. Evaluator: Sebagai evaluator guru dituntut untuk mampu menilai produk (hasil) pembelajaran serta proses (jalannya) pembelajaran. Dari proses ini diharapkan diperoleh umpan balik dari hasil pembelajaran untuk optimalisasi hasil pembelajaran.

PENGELOLAAN KELAS YANG EFEKTIF

Mengelola kelas (classroom management) merupakan  kemampuan utama yang diharapkan dari seorang guru. Diadopsi dari teorinya, managemen diartikan sebagai semua upaya yang dilakukan untuk membawa suatu kelompok secara bersama-sama mencapai tujuan secara efektif dan efisien dengan menggunakan sumber yang ada, yang  oleh Ricky W. Griffi lebih difokuskan pada upaya planning, organizing, directing, dan controlling (http://en.wikipedia.org, 2010). Dalam konteks persekolahan, Classroom management dapat dikatakan sebagai penerapan fungsi-fungsi managemen tersebut agar kelas dengan seluruh anggotanya dan setiap aktivitasnya berjalan dengan baik mencapai tujuan pembelajaran.  Dalam managemen kelas, guru memfasilitasi jalannya pembelajaran dan selalu berupaya menjaga situasi kelas agar selalu mendukung tujuan pembelajaran (Horne, 1990; Elliot, dkk., 1999). Kelas yang dimaksud bukan semata-mata ruangan formal yang berisi sekelompok siswa belajar, melainkan semua aktivitas pembelajaran sekelompok siswa dalam seting apapun, seperti indoor ataupun outdoor dan guru sebagai pembimbingnya.

Terdapat dua bahasan utama classroom management, yaitu pengelolaan pembelajaran dan pengelolaan perilaku siswa (Oliver & Rechly, 2007; ). Pada situasi kelas, kedua hal tersebut bagaikan dua permukaan keeping mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Bahkan ketika berada langsung dalam seting kelas, kerapkali keduanya tidak bisa dipilah. Ketika mencapai suatu tujuan pembelajaran,  guru mungkin saja akan sulit membedakan manakah dari keduanya yang berperan. Adakalanya ketika guru menerapkan pengelolaan pembelajaran yang baik, maka secara tidak langsung akan mempengaruhi perbaikan perilaku siswa (Emmet & Stough, 2001 dalam Oliver & Rechly, 2007), dan kemudian keduanya akan menjadikan skenario pembelajaran berhasil.

MERENCANAKAN PENGELOLAAN KELAS

Pengelolaan yang baik dan berpotensi sukses berawal dari perencanaan yang matang dan terstruktur. Sebagaimana karakter guru yang intens (intentional teacher), yang selalu rasional dan bergerak kearah tujuan di setiap aktivitas mengajarnya (Slavin, 2009). Kerja efektif seorang guru membutuhkan kompetensi dalam menguasai disiplin ilmu pendidikan dan menerapkan dalam keseharian mengajar (biasa disebut sebagai kompetensi pedagogi). Selain itu,  untuk mengkomunikasikan tugas-tugasnya agar efektif dan efisien kepada siswa dan stake holders pendidikan yang lain dibutuhkan kompetensi sosial. Armstrong, Henson, & Savage, 1997 menyebutkan bahwa guru yang efektif selalu melibatkan siswa dalam perencanaan pembelajaran dan rancangan pembelajaran yang ditetapkannya.

Beberapa persiapan yang perlu bagi guru dalam pengelolaan kelas adalah :

a. Menguasai Materi Pembelajaran

Kemampuan dalam menguasai materi pembelajaran merupakan kompetensi professional bagi seorang guru. Menguasai materi menjadi salah satu faktor yang menjamin bahwa guru akan  menyampaikan seluruh materi dengan benar dan tuntas. Namun lebih daripada itu, dalam konteks classroom management, penguasaan materi lebih berfungsi sebagai faktor yang dibutuhkan dalam merencanakan alokasi waktu untuk masing-masing bagian materi yang akan disampaikan, mengelola aktivitas kelas berdasarkan sifat masing-masing materi ajar(Elliot, dkk., 1999; Slavin, 2009).  Fungsi lain adalah memutuskan pada materi mana area kemampuan mana siswa akan diutamakan dan membutuhkan penekanan waktu lebih banyak, misal, apakah  guru akan menekankan kemampuan membaca komprehensif atau membaca cepat dalam materi pelajaran membaca (Elliot, dkk., 1999).

b. Menentukan tujuan pembelajaran dan performance objective

Tujuan pembelajaran (goals) merupakan tujuan kolektif seluruh siswa untuk menguasai materi dalam waktu yang telah ditentukan dan dalam batasan skor nilai (Henson & Eller, 1999). Menentukan tujuan pembelajaran menjadi tolak ukur batas materi yang harus disampaikan dan merencanakan alokasi waktu dalam mencapainya.

Namun selain tujuan pembelajaran kolektif tersebut terdapat tujuan per individu siswa yang diistilahkan sebagai objectives. Objective diuraikan sebagai harapan kepada masing-masing siswa akan capaian (performance) dalam pembelajaran yang ditempuh (Slavin,1990 dalam Henson & Eller, 1999).  Padanan dari performance objective dalam istilah Indonesia adalah kompetensi dasar siswa. Performance Objective digambarkan dalam kata kerja yang operasional dan bisa diukur pada domain kognitif, afektif, dan atau psikomotor. Ukuran pada domain kognitif pada umumnya menggunakan taksonomi Bloom yang berupa kata kerja kongkrit dan dapat diukur.  Enam kata kerja wilayah taksonomi Bloom yang berurutan dari level terbawah adalah (Henson & Eller, 1999): (1)pengetahuan dengan operasional mengingat, (2)pemahaman dengan operasional kemampuan  menerjemahkan, interpretasi, dan prediksi, (3) aplikasi, yakni menggunakan konsep umum untuk pada kasus tertentu,kongkrit, (4)analisis dengan kemampuan menerapkan prinsip, konsep, teori yang luas untuk menemukan prinsip yang lebih luas, (5) sintesis, yakni mengambil bagian-bagian kecil dan menyusunnya kembali pada satu keseluruhan yang baru. butuh eksperimen dan investigasi, dan (6) evaluasi atau membuat penilaian terhadap performa atau situasi di luar diri siswa.

Penjabaran performance objective yang lebih spesifik lagi adalah learning outcome (indicator pencapaian belajar) siswa. Learning outcome menguraikan  performance objective dalam unit-unit kerja per sub-materi yang operasional (Elliot, dkk., 1999). Misalnya dari performance objective mampu menggunakan komputer, maka learning outcomenya adalah mampu mampu mematikan dan menghidupkan komputer dengan prosedur yang benar.

Lebih daripada untuk membuat batasan-batasan performa siswa, guru yang efektif selalu mengkomunikasikan tujuan pembelajaran maupun objective performance kepada siswanya. Harapan-harapan yang antar guru dan siswa yang dikomunikasikan dan saling dimengerti akan menjadi  modalitas dalam keberhasilan mengatur kelas (Elliot, dkk., 1999). Selain itu, guru yang mengerti karakterisik belajar masing-masing siswanya akan mempertimbangkan kemampuan masing-masing siswa dan dengan metode dan strategi apa tujuan dan harapan pembelajaran tersebut dapat tercapai.

c. Memilih dan Merencanakan Metode dan Teknik Mengajar

Perencanaan pembelajaran terbantu apabila guru telah merencanakan metode dan teknik pembelajaran terlebih dahulu. Metode dan teknik mengajar adalah kompetensi professional seorang guru. Metode dan teknik mengajar menjawab pertanyaan mengenai bagaimana cara materi tertentu disampaikan secara tepat dan efektif kepada seluruh siswa.

Beberapa metode dan strategi mengajar antara lain adalah (1)ceramah (direct instruction) yakni guru memimpin kelas dan memberi materi dengan cara mengajar langsung, biasanya apabila tujuan materi ajar adalah mengembangkan konsep, (2)  inquiry learning yakni apabila guru mengajak siswa untuk aktif belajar melalui berbagai kegiatan mandiri seerti, studi lapangan, eksperimen, atau studi pustaka dan membuat laporannya (Henson, 1996 dalam Elliot, dkk., 1999), (3)tanya jawab yang menstimulasi ketertarikan siswa terhadap materi, (4) keterampilan mendengar, yang merupakan cara untuk memperdalam pemahaman materi dengan melatih siswa untuk mendengar dengan kritis (mendengar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sendiri), (5) simulasi, merupakan metode dan teknik yang membawa siswa pada replica dari situasi asal dari beberapa aspek yang lingkungan yang diajarkan pada siswa (Alessi & Trollip, 1991, dalam Henson & Eller, 1999), dan (6) studi kasus, yakni mencoba menerapkan konsep yang dipelajari dalam suatu analisa kasus.

MENGELOLA KELAS

a. Penerapan Metode dan Strategi Pembelajaran

Guru yang efektif menguasai berbagai metode dan strategi mengajar, dan mampu memilih masing-masing metode dan teknik dalam situasi pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan karakteristik siswanya akan menjadi pendukung utama ketuntasan belajar. Bahkan, guru yang efektif bisa saja menggunakan beberapa metode dan teknik mengajar pada satu pertemuan dengan keterampilan mengelola dan berpindah dari satu metode ke metode yang lain tanpa membingungkan siswa (Elliot, dkk., 1999).

b. Pengelolaan Waktu

Pengelolaan waktu meliputi durasi yang digunakan guru dalam mengelola kelas secara langsung dan menggunakannya dalam langkah-langkah pembelajaran (Jones & Jones, 2007; Marzano, 2003 dalam Slavin, 2009). Disamping secara teknis mendapat keuntungan akan pemanfaatan waktu dan tenaga guru, pengelolaan waktu yang konsisten juga akan menjadi satu langkah tersendiri untuk melatih komitmen siswa terhadap kelas, dan terhadap lingkungan yang lebih luas.

Terdapat tiga perhatian utama dalam pengelolaan waktu ini (Slavin, 2009), yakni :

(1) bagaimana guru mengalokasikan waktu untuk pembelajaran sehingga tidak terjadi hilangnya manfaat waktu yang digunakan di kelas (lost time), pelajaran dimulai terlambat atau berakhir lebih awal, interupsi yang tidak berguna, waktu yang berlebihan untuk menerangkan rutinitas, dan menghabiskan waktu untuk mendisiplinkan siswa;

(2) bagaimana guru menggunakan waktu secara efektif, sehingga guru dapat mengajar dengan menarik, penuh, dan releven terhadap minat siswa (Weinsten & Mignano, 2003 dalam Slavin, 2009), menjaga kelas agar tidak terjadi interupsi yang tidak berharga, atau skenario kelas menjadi lambat (Kounin, 1970 dalam Slavin, 2009), menjaga agar pembelajaran tidak terganggu oleh kejadian-kejadian yang menghambat, mengelola transisi antar materi, antar metode, dan akhir materi agar tidak timpang, menjaga fokus siswa selama pelajaran dan tugas kelompok, bagaimana guru selalu ‘waspada’ akan perilaku siswa sepanjang pelajaran, dan bagaimana guru mengatasi kejadian yang mengganggu kelas sambil terus melanjutkan materi;

(3) Mempertimbangkan target pengelolaan waktu agar sesuai dengan bobot materi dan juga kondisi dan situasi kelas.

(4) Mempertimbangkan bagaimana pengelolaan waktu dalam setting Student-Centered Classroom dimana  skenario pembelajarannya lebih kompleks daripada kelas konvensional, karena siswa banyak berpindah dari satu metode satu ke metode lain yang selalu melibatkan mereka secara aktif.

c. Bagaimana Aturan Kelas dapat Mendukung classroom management

(1)   Mulai menetapkan  aturan di awal pertemuan

Emmer,dkk, 1980 dan Evertson & Emmer, 1982 dalam Slavin, 2009 menemukan bahwa situasi hari pertama masuk sekolah akan berpengaruh positif pada keteraturan di ruangan kelas sampai akhir program. Beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam hal ini antara lain (Everson al., 2006; Wong and Wong, 2004 dalam Slavin, 2009): rela menghabiskan banyak waktu untuk mengenalkan aturan kelas dan mendiskusikan pada siswa dengan jelas dan terencana  serta menyertai siswa beberapa hari ke depannya untuk memastikan mereka memahami aturan yang ditetapkan, melibatkan seluruh siswa dalam memutuskan aturan kelas yang akan berlaku, memberitahu siswa aturan yang berlaku secara spesifik, guru juga menjelaskan tugas-tugas pembelajaran dengan jelas, terencana, terstruktur, dan cara bervariasi agar tidak membingungkan siswa, kemudian seorang guru efektif mampu merespon segera atas perilaku salah siswa.

(2)   Menetapkan Aturan  (moral) di Kelas

Menetapkan aturan yang akan berlaku di kelas akan mempersiapkan siswa memahami peraturan-peraturan (terutama yang bersifat moral) dan berkomitmen pada aturan tersebut. Penekanan penetapan aturan kelas  sebenarnya untuk menegakkan moral dalam kegiatan kelas (Kagan, Kyle, & Scott, 2004 dalam Slavin, 2009). Biasanya yang ditetapkan pada aturan kelas adalah nilai-nilai sopan santun baik terhadap sesama siswa, guru, maupun lingkungan belajarnya dan hak serta kewajiban siswa.

d. Pengelolaan Perilaku Salah yang Sering Terjadi di kelas

Kata kunci dalam pengelolaan rutin perilaku salah siswa adalah dengan sedapat mungkin menghindari pemberian intervensi setelah terjadinya kesalahan. Jadi, langkah-langkah preventif diutamakan dan secara rutin diterapkan oleh guru dalam pembelajaran untuk menjaga situasi kelas dari perilaku salah siswa (Charles, 2008; Evertson et al., 2006; Jones & Jones,2007, dalam Slavin, 2009).  Pengelolaan rutin yang dapat dilakukan guru adalah (Slavin, 2009): (1) mencegah perilaku salah siswa dengan membuat situasi kelas menyenangkan untuk siswa, (2) memberi tanda-tanda non-verbal ketika muncul gelagat siswa akan melakukan perilaku salah, (3) guru menampakkan perilaku benar yang berkebalikan dengan perilaku salah siswa yang ingin dikurangi, (4) menujukkan kepada siswa lain apabila seorang siswa melakukan hal yang benar atau baik, (5) mengingatkan secara verbal atas kesalahan siswa, (6) mengulang untuk mengingatkan, (7) memberi konsekuensi atas perilaku salah siswa dengan aturan yang jelas.

Sekolah yang Efektif

Selain faktor atribut guru dan kemampuannya dalam manajemen kelas,   hal lain yang juga sangat mempengaruhi proses pembelajaran adalah faktor sekolah. Hasil review dari tiga penelitian yang dilakukan oleh Berliner, Mackenzie, dan Rutter (Henson & Eller, 1999) mengenai penelitian tentang sekolah yang efektif menunjukkan bahwa lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan sekolah yang efektif (Beberapa karakteristik penting dari sekolah yang efektif adalah cara memberikan instruksi/ petunjuk, evaluasi, komunikasi dan pelatihan, iklim, dan disiplin yang diterapkan di sekolah.

1.      Ketegasan instruksi

Instruksi ditekankan pada pemahaman dari guru, siswa, dan administrator sekolah. Kurikulum dibuat dengan melibatkan perwakilan siswa dalam perencanaan dan penetapan tujuannya.

Pelajaran dan pekerjaan rumah siswa segera mendapat umpan balik (feedback) dari guru. Haines (Henson & Eller, 1999) mengatakan bahwa meski kebanyakan PR diberikan oleh guru, namun siswa akan lebih menikmati PR yang disepakati oleh guru dan siswa. Karena dampak dari PR atau pembelajaran dipengaruhi oleh tingkatan kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas, dan karena guru hanya memiliki sedikit kendali tentang perilaku siswa di luar kelas, Good & Brophy (Henson & Eller, 1999) menyarankan kepada guru untuk menuliskan kebijakan yang jelas tetang konsekuensi yang didapat siswa jika tidak menyelesaikan tugasnya. Kegagalan menyelesaikan tugas dapat terjadi karena ketidakmampuan siswa, oleh karena itu, guru sebaiknya senantiasa memonitor dan, jika diperlukan, merubah tingkat kesulitan dari tugas yang diberikan.

2.      Cara evaluasi

Sekolah yang efektif menggunakan prosedur evaluasi yang sistematis untuk menentukan kemajuan siswa. Laporan kemajuan siswa digunakan untuk mendiagnosa, mengevaluasi, dan memberikan umpan balik.

3.      Harapan akademis

Para siswa dan orangtuanya senantiasa peduli dengan tuntutan instruksi dan memahami bahwa siswa diharapkan dapat memenuhi harapan akademis yang tinggi. Guru memberi tahu siswa bahwa mereka diharapkan untuk menguasai tugas-tugas pembelajaran, termasuk aktifitas-aktifitas siswa yang dilakukan agar penguasaan materi dapat tercapai di kelas.

Kepala sekolah memperhatikan kualitas instruksi dan menekankan perlunya peningkatan cara pemberian instruksi. Kepala sekolah senantiasa menjaga komunikasi dengan para guru, siswa, staf, dan orangtua mengenai tujuan akademis yang ingin dicapai.

Meier (Henson & Eller, 1999) mengatakan bahwa pelatihan staf sangatlah penting dalam sekolah yang efektif, di mana guru belajar untuk bekerja secara kolaboratif. Kegiatan untuk peningkatan kemampuan staf digunakan untuk memperkenalkan metode dan teknik mengajar baru yang dapat digunakan di kelas. Pelatihan staf juga dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan hasil pembelajaran yang efektif.

4.      Iklim sekolah

Purkey & Smith serta Rutter (Henson & Eller, 1999) mengungkapkan bahwa beberapa faktor dalam iklim sekolah akan berhubungan dengan prestasi siswa. Sekolah yang efektif perlu untuk menjaga iklim yang teratur dan aman sehingga kondusif bagi siswa untuk belajar dan mengajar. Secara umum, diperlukan tujuan yang jelas dan perasaan bahwa belajar itu menyenangkan (Yelon dalam Henson & Eller, 1999). Diperlukan juga perasaan akan komunikasi yang baik. Kebanyakan siswa di sekolah yang efektif memiliki keinginan untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran dan memiliki ikatan dengan kegiatan ekstrakurikuler yang disediakan oleh sekolah.

Jones (Henson & Eller, 1999) mengatakan bahwa kepala sekolah dan guru di sekolah yang efektif memiliki rasa tanggung jawab akan siswanya  Mereka memiliki rasa empatik terhadap siswa, memiliki interaksi pribadi dengan siswa, dan menikmati ikatan yang dimiliki dengan siswa.

Staf sekolah merasa bahwa mereka memiliki kewenangan dan peran penting dalam administrasi, serta merasa bahwa mereka dapat menggunakan penilaiannya untuk menyelesaikan suatu masalah. Sekolah yang efektif menggunakan kegiatan pengembangan staf/ pegawai untuk meningkatkan iklim sekolah yang positif dan menunjukkan perilaku staf yang kurang tepat.

5.      Disiplin yang diterapkan

Penelitian yang dilakukan oleh Purkey & Smith; Rutter; serta US Department of Education (Henson & Eller, 1999) menunjukkan bahwa sekolah yang baik memiliki peraturan dan disiplin yang adil dan jelas Guru dan anggota sekolah lainnya menerapkan prosedur disiplin yang adil dan tegas,mengkomunikasikan hal ini kepada siswa, dan memberlakukan dengan konsisten. Tidak ada toleransi terhadap pelanggaran yang terjadi. Meski demikian tetap menghindari kekerasan, penerapan disiplin dilakukan dengan tegas dan adil. Menurut Hanny (Henson & Eller, 1999) guru diharapkan memberikan petunjuk yang sopan daripada melakukan interogasi atau membentak siswa yang melakukan pelanggaran.

6.      Ukuran sekolah dan kelas

Rutter (Henson & Eller, 1999) mengungkapkan bahwa sebenarnya tidak ada hubungan langsung antara ukuran sekolah atau kelas dengan prestasi belajar. Baik sekolah yang besar maupun kecil sama-sama memiliki sisi positifnya masing-masing. Sekolah yang besar umumnya memiliki kurikulum yang lebih variatif dan juga guru yang melakukan persiapan yang lebih baik. Sekolah yang kecil umumnya memiliki kohesifitas sosial, kerjasama guru, dan interaksi yang positif antara guru dengan murid.

Rutter (Henson & Eller, 1999) mengungkapkan bahwa sebuah kelas dapat memiliki siswa antara 20 sampai 40 orang. Kelas dengan jumlah siswa kurang dari 20 orang hanya akan lebih baik bagi siswa yang perlu melakukan perbaikan/ remidi, siswa difabel, siswa bermasalah, serta siswa yang masih terlalu muda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s